Aplikasi SIG Untuk Pemetaan Potensi MIneralisasi Emas Epitermal Flores

SIG diaplikasikan sebagai alat bantu dalam pembuatan peta sebagai system penyimpanan data(basis data) hasil eksplorasi. Perkembangan pemanfaatan SIG dalam kegiatan eksplorasi saat ini telah berkembang dengan pesat di negara-negara maju. Selain SIG dimanfaatkan sebagai alat bantu pengganti manusia dalam menghasilkan peta, negara-negara maju tersebut juga Mereka memanfaatkan SIG sebagai suatu sistem informasi terpadu yang ditujukan untuk pengambilan keputusan terutama dalam analisis kuantitatif dan integrasi data spasial.

Metode dan teknik dalam SIG membahas data spasial yang berhubungan dengan kegiatan eksplorasi mineral logam seperti data geologi, geokimia, geofisika dan penginderaan jauh (remote sensing). Untuk membuktikan metode ini dibutuhkan derah studi yang memiliki daerah penghasil mineral logam, dimana daerah tersebut porspektif bagi keterdapatan mineral logam terutama mineral logam mulia (emas dan perak) dalam bentuk endapan epitermal.

Dua metoda yang dapat digunakan penulis untuk analisa data spasial secara kuantitatif menggunakan SIG yaitu metoda empirikal dan konseptual. Metoda empirikal merupakan metoda yang mendasarkan kajiannya pada hubungan antara lokasi bahan galian atau mineralisasi yang telah diketahui dari hasil eksplorasi sebelumnya dengan kondisi geologi di sekitarnya. Sedangkan metoda konseptual mendasarkan kajiannya pada konsep pembentukan suatu endapan mineral dengan menggunakan sistem mineral (mineral system) sebagai acuan dasar. Mineral system didefinisikan sebagai semua faktor geologi yang berpengaruh pada terbentuknya endapan mineral.

Keuntungan dari penggunaan metoda konseptual dalam analisis kuantitatif dan integrasi data spasial menggunakan SIG adalah tidak dibutuhkannya lokasi bahan galian atau mineralisasi sebagai salahsatu faktor dalam pemetaan potensi mineral sehingga metoda ini dapat diterapkan untuk daerah yang belum dieksplorasi atau tingkat eksplorasinya masih dalam tahap pendahuluan.

Dalam metoda konseptual terdapat beberapa teknik untuk mengintegrasikan data spasial menjadi peta potensi mineralisasi, salahsatunya adalah dengan menggunakan metoda fuzzy logic. Studi ini memanfaatkan data spasial yang berskala regional, yang disesuaikan dengan luas daerah studi dan terbatasnya data yang bersifat lokal.

Analisis data spasial terdiri dari 4 bagian, yaitu:

  1. Analisis data geologi, Data geologi terdiri dari data formasi batuan dan data struktur. Analisis data formasi batuan dengan menggunakan konsep mineral system berhasil mengidentifikasikan formasi batuan yang dapat menjadi batuan induk untuk mineralisasi emas epitermal di daerah studi
  2. Analisis data geokimia endapan sungai menggunakan pendekatan analisis daerah aliran sungai (catchment-basin approach) sebagai dasar untuk menentukan daerah pengaruh dari lokasi endapan sungai.
  3. Analisis data Landsat 7 ETM+ menggunakan metoda Crósta. Metoda Crósta adalah metoda yang umum digunakan dalam analisis citra Landsat untuk menentukan zona ubahan limonitik dan lempung.

Integrasi data spasial dilakukan untuk memberikan nilai fuzzy membership untuk tiap attribute yang terdapat pada tiap dataset berdasarkan pada konsep mineral system untuk mineralisasi emas epitermal. Beberapa model fuzzy logic diterapkan pada proses integrasi yaitu dengan memodelkannya dengan menggunakan operator fuzzy AND, operator fuzzy OR, dan fungsi fuzzy gamma untuk menggabungkan seluruh data. Hasil integrasi akan menghasilkan peta potensi mineralisasi emas epitermal dimana memiliki luas daerah prospek paling kecil akan tetapi memuat paling banyak lokasi keterdapatan mineral.

 

Sumber : Prima Muharam Hilman. Aplikasi SIG Untuk Pemetaan Potensi MIneralisasi Emas Epitermal Flores .

45 Comments

Perancangan dan Pembuatan Sistem Informasi Pengukuran Kinerja Pemasaran Dengan Metode Balanced Scorecard (Studi Kasus PT. Semen Gresik )

Pada jurnal ini penulis membahas tentang perancangan dan pembuatan sistem informasi pengukuran kinerja pemasaran dengan metode balanced scorecard. Penulis melakukan penelitian Studi Kasus ke PT. Semen Gresik. Pengukuran kinerja adalah hal yang penting bagi manajemen dalam melakukan evaluasi performa perusahaan dan perencanaan. Gambaran mengenai kinerja perusahaan bisa didapatkan dari dua sumber, yakni informasi finansial dan informasi nonfinansial. Informasi finansial didapatkan dari penyusunan anggaran untuk mengendalikan biaya. Sedangkan informasi nonfinansial merupakan faktor kunci untuk menetapkan strategi yang dipilih guna melaksanakan tujuan yang telah ditetapkan. Kedua informasi tersebut dianalisa menggunakan beberapa model pengukuran kinerja perusahaan, salah satunya dengan menggunakan metode  balanced scorecard .

Balanced Scorecard

Balanced scorecard merupakan kerangka kerja komprehensif untuk menerjemahkan visi dan misi serta strategi perusah aan dalam seperangkat ukuran kinerja yang terpadu, tersusun dalam empat perspektif, yaitu finansial, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan.

Pendekatan balanced scorecard melakukan pengukuran kinerja berdasarkan pada aspek finansial maupun non finansial. Aspek non financial meliputi peningkatan efektivitas proses bisnis, komitmen organisasi dan kepercayaan  customer  terhadap produk, sehingga apabila perusahaan akan melakukan pelipatgandaan kinerja maka fokus perhatian haruslah ditujukan kepada peningkatan kinerja di bidang non-finansial karena dari situlah kinerja keuangan berasal.

Perspektif finansial memberikan petunjuk apakah strategi organisasi serta implementasinya meningkatkan pendapatan keuangan organisasi. Untuk membangun  balanced scorecard , unit-unit bisnis dikaitkan dengan tujuan finansial yang berkaitan dengan strategi perusahaan. Tujuan finansial berperan sebagai fokus bagi tujuan-tujuan strategis dan ukuran-ukuran semua perspektif dalam  balanced scorecard .

Penerapan balanced scorecard pada perusahaan mengacu pada strategi bisnis perusahaan. Strategi bisnis bisa digambarkan melalui strategy map, dimana pada strategy map dapat diketahui bagaimana gambaran untuk mencapai laba yang tinggi dengan pengaturan yang berfokus pada perspektif proses bisnis internal diantaranya proses produksi, proses manajemen perusahaan, pemasaran, dan beberapa proses di dalam perusahaan lainnya. Dari tujuan-tujuan perspektif tersebut berpengaruh besar pada tujuan-tujuan dalam perspektif finansial. Sebagai ukuran dalam peningkatan pasar dan penjualan produk,  revenue growth strategy  melihat hasil pada promosi, pelayanan pelanggan, dan relasi dengan distributor. Sebaliknya,  productivity strategy lebih melihat pada efisiensi yang dilakukan dalam proses operasional dan proses manajemen perusahaan.

Pengukuran kinerja pemasaran terdapat dalam beberapa indicator, seperti pengukuran volume penjualan, pengukuran pangsa pasar dan pengukuran kepuasan pelanggan. Indikator kepuasan pelanggan merupakan KPI utama pada perspektif pelanggan dalam kerangka  balanced scorecard.

Dalam desain dan implementasi system terlebih dahulu dilakukan analisa kebutuhan pengguna dengan mengguna metode observasi dan wawancara dengan beberapa individu yang terkait. Dari observasi dan wawancara tersebut dapat diketahui permasalahan untuk dijadikan pertimbangan dalam desain system meliputi tool yang dibutuhkan dalam control pemasaran yang mengaju pada Key Performance Indicator (KPI) yang menggunakan metode balanced scorecard, hasil analisa target, achieve, dan score dalam balanced scorecard  dengan menggunakan tabel, grafik dari berbagai aspek, dll.

Dari analisis system dapat dibuat suatu desain system dengan menerjemahkan kebutuhan sistem ke dalam suatu aplikasi, baik dari segi pemodelan proses bisnis yang berlangsung, pemodelan dari sisi programming dan aplikasi, maupun pemodelan alur data.

 

Sumber :Yudi Hardiyanto, Achmad Holil Noor Ali, Her Arsa Pambudi. Perancangan dan Pembuatan Sistem Informasi Pengukuran Kinerja Pemasaran Dengan Metode Balanced Scorecard (Studi Kasus PT. Semen Gresik ). (Link akses:

http://xa.yimg.com/kq/groups/23358460/597604143/name/JURNAL+INDRI+(BU+LIEN).pdf)

 

1 Comment

Pengaruh Implementasi Sistem Informasi/Teknologi Informasi Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Kasus Pada Perusahaan Jasa Pengiriman)

Pada jurnal ini penulis membahas tentang pengaruh implementasi sistem informasi/teknologi informasi terhadap kinerja perusahaan dimana perkembangan Sistem Informasi/Teknologi Informasi menjadi senjata wajib perusahaan dalam bersaing untuk memenangkan persaingan bisnis. Investasi SI/TI yang dilakukan oleh perusahaan harus direncanakan sebaik mungkin agar tidak sia-sia. Prinsipnya investasi SI/TI yang dilakukan harus mendukung strategi bisnis untuk mencapai tujuan bisnis perusahaan dan dapat meningkatkan kinerja (performance) perusahaan.

Untuk mengetahui pengaruh implementasi SI/TI penulis melakukan penelitian ke perusahaan dengan menggunakan case study research dan menentukan implementasi SI/TI untuk membantu proses bisnis utama (primary business process ) perusahaan. Kemudian menentukan variable yang digunakan dalam penelitian. Variabel yang digunakan pada suatu penelitian ada 3, yaitu: 1) Variabel bebas, yang merupakan implementasi SI/TI yang berhubungan dengan proses bisnis utama perusahan; 2) Variabel terikat yang berpengaruh pada kinerja operasional perusahaan. Penjabaran kinerja operasional didapatkan melalui survei pendahuluan(preliminary survey) yang bertujuan untuk menentukan critical success factor (CSF) dan key performance indicator (KPI). Kemudian dengan CSF dan KPI ini diidentifikasi berbagai kinerja operasional; 3) Variabel control yang merupakan kondisi konstan antara variable bebas dan variable terikat.

Critical Success factor (CSF) dan Key Performance Indicator (KPI).

CFS merupakan faktor-faktor keberhasilan kritis berupa langkah-lagkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan bisnis perusahaan. Untuk menentukan tujuan bisnis perusahaan didapat dari penjabaran visi dan misi perusahaan. Setelah diketahui tujuan bisnis diketahui, kemudian tentukan langkah-langkah kritis yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Penggunaan analisis CFS ditujukan untuk mencari faktor-faktor krisis bagi perusahaan jasa pengiriman untuk mencapai tujuan bisnisnya, dimana faktor-faktor tersebut digunakan sebagai landasan dalam menentukan variable terkait.

KPI digunakan sebagai referensi untuk melihat ketepatan dalam penggunaan strategi bisnis dalam implementasi strategi perusahaan. KPI berhubungan secara langsung dengan tujuan bisnis perusahaan. KPI ditentukan sebagai parameter pengukuran keberhasilan CSF bagi perusahaan.

Analisis Produktivitas Perusahaan

Produktivitas didefinisikan sebagai perbandingan antara output, dalam hal ini barang dan jasa, dibagi dengan input dalam hal ini sumber daya.  Pengukuran produktivitas dilakukan dengan 2 metode:

a. Produktivitas faktor tunggal(single-factor productivity)

Produktivitas= output yang dihasilkan / input yang digunakan.

b. Produktivitas multifactor(multi-factor productivity)

Produktivitas= output yang dihasilkan / (pekerja+material+energy+modal+dll)

Dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan analisis statistic deskriptif dapat digambarkan pengaruh implementasi SI/TI terhadap kinerja operasional.

Sumber : Henry Christiano, Riri Satria, Yudho Giri Sucahyo. Pengaruh Implementasi Sistem Informasi/Teknologi Informasi Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Kasus Pada Perusahaan Jasa Pengiriman) . (Link akses:

http://ejournal.narotama.ac.id/files/PENGARUH%20IMPLEMENTASI%20SISTEM%20INFORMASI-TEKNOLOGI%20INFORMASI%20TERHADAP%20KINERJA%20OPERASIONAL%20PERUSAHAAN%20STUDI%20KASUS%20PADA%20%85.pdf)

4 Comments

Analisis Model IT Menggunakan Balanced Scorecard Untuk Pengembangan Sistem Teknologi Informasi

Pada jurnal ini penulis membahas tentang perencanaan strategis system informasi yang digunakan untuk menerapkan strategi yang dapat memberikan keuntunga kompetitif. Perencanaan strategi teknologi informasi dilakukan dengan beberapa alasan, diantaranya:

  1. Membagikan hasil perencanaan system informasikepada manajemen dan ahli-ahli si stem teknologi informasi.
  2. Mengembangkan suatu rencana untuk sumber daya informasi sehingga mampu mengkomunikasikan masa depan organisasi ke organisasi lain.
  3. Melakukan diskusi perencanaan strategi sehingga dapat dibuat keputusan tentang system teknologi informasi untuk bisnis organisasi.
  4. Dengan perencanaan yang baik, jika sesuatu yang buruk terjadi mendadak di organisasi, maka organisasi sudah siap menghadapinya.
  5. Membantu mengalokasikan sumber-sumber daya ke proyek -proyek sistem teknologi informasi yang penting dan bermanfaat bagi organisasi
  6. Alat komunikasi dengan manajemen puncak.
  7. Membantu pemasok

Perencanaan strategis sistem teknologi informasi mempunyai tahapan-tahapan sebagai berikut: terdapat visi/misi dan tujuan yang meliputi analisis eksternal dan analisis internal yang menghasilkan SWOT strategi, SWOT strategi menghasilkan tema-tema strategis yang mengarah kepada IT Balanced Scorecard meliputi Corporate Contribution, Customer Orientation, Operation Excellence, dan Future Orientation.

Beberapa perspektif dalam mengevaluasi kinerja IT:

a. Perspektif Kontribusi Organisasi ( Corporate Contribution)

Perspektif yang mengevaluasi kinerja IT berdasarkan pandangan dari manajemen eksekutif, para direktur dan  shareholder.

b. Perspektif Orientasi Pengguna ( User Orientaiton )

Perspektif yang mengevaluasi kinerja IT berdasarkan cara pandang pengguna bisnis.

Secara umum, perspektif ini memiliki dua kelompok pengukuran:

–          Kelompok pengukuran pelanggan utama

ukuran generik yang digunakan hampir semua organisasi, yang terdiri dari ukuran: pangsa pasar, retensi pelanggan, akuisisi pelanggan, kepuasan pelanggan dan profitabilitas pelanggan.

–          Kelompok pendorong kinerja

Kelompok pengukuran yang merupakan faktor pendorong kinerja (pembeda) hasil pelanggan.

c. Perspektif keunggulan operasional (operational excellence)

Perspektif yang menilai kinerja IT berdasarkan cara pandang manajemen IT

d. Perspektif orientasi dimasa depan ( future orientation )

Perspektif yang menilai kinerja IT berdasarkan cara pandang dari departemen itu sendiri. Pada perspektif terakhir ini akan menyiapkan infrastruktur organisasi yang mem ungkinkan tujuan tujuan dalam tiga perspektif lainnya dapat dicapai.

Ada tiga kategori  yang dapat diperhatikan secara khusus dalam penanganan di masa depan yaitu :

  1. Kapabilitas pekerja

Tiga pengukuran utama yang berlaku umum adalah kepuasan pekerja, resensi pekerja dan produktivitas pekerja. Selain itu terdapat faktor pendorong penting yaitu kompetensi staf, infrastruktur Teknologi, ilmu untuk bertindak.

  1. Kapabilitas sistem informasi

Diperlukan data dan informasi yang lebih banyak, yang menyangkut pelanggan, keadaan pasar, proses internal dan konsekuensi finansial keputusan organisasi.

  1. Motivasi, pemberdayaan dan keselarasan

Sebuah organisasi memerlukan perencanaan strategi untuk mengembangankan suatu system teknologi informasi supaya mempunyai nilai keunggulan kompetitif bagi organisasinya dan selaras dengan strategi bisnisnya. Balanced scorecard akan menghasilkan rencana strategi yang memiliki karakteristik: Komprehensif, Koheren, Seimbang, dan Terukur.

 

Sumber : Rahmadi Wijaya, S. Si., MT. Analisis Model IT Menggunakan Balanced Scorecard Untuk Pengembangan Sistem Teknologi Informasi  . (Link akses:

http://cls.maranatha.edu/khusus/ojs/index.php/jurnal-sistem-informasi/article/view/470/pdf)

No Comments

Resume: Usulan Peta Strategi Teknologi Informasi Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard

Jurnal ini penulis  menjelaska pendekatan balanced scorecard pada suatu perusahaan. Dalam suatu perusahan dibutuhkan materi strategi penyelerasan antara perencanaan strategis bisnis dan system dan teknologi informasi sehingga  sistem  dan  teknologi  informasi tersebut dapat menjadi “business  support” bagi  proses  bisnis  perusahaan. Metoda Balanced  scorecard  digunakan  untuk melakukan  manajemen  strategi  bisnis  yang mengacu  pada  pendekatan  empat prespektif Balanced  Scorecard yang  dibagi  ke  dalam  empat  area  perspektif  yaitu  : financial perspective, customer perspective, internal  process  perspective  dan learning and growth  perspective. Penyelarasan dilakukan dengan menggunakan analisis CSF (Critical Success Factor) untuk memunculkan kebutuhan system dan teknologi informasi sehingga sasaran system dan teknologi informasi dapat dimunculkan dan dilakukan pendekatan IT Balanced Scorecard. Kemudahan dalam menerjemahkan strategi tersebut dirumuskan dan dipetakan sehingga membentuk peta strategi yang selaras, bersinergi sehingga sasaran dapat tercapai dalam bentuk peta  strategi  teknologi  informasi  (IT strategic map).

Membangun suatu peta strategi teknologi informasi (IT Strategy Map) menggunakan pendekatan    metoda Balanced  Scorecard berguna untuk menyelaraskan sasaran-sasaran bisnis perusahaan  dengan  strategi  teknologi informasi.

Melalui pendekatan Balanced Scorecard (BSC), penulis dapat menghasilkan dua laporan utama yaitu peta strategi (strategy map) dan kartu skor(scorecard). Dengan perspektif BSC akan sihasilkan rencana strategis yang memiliki karakteristik komprehensif, koheren, seimbang, dan terukur. Dimana digunakan IT BSC sebagai metodologi manajemen kinerja IT yang dikembangkan dari metodologi balanced scorecard yang akan memberikan kerangka berpikir dalam penjabaran strategi penerapan IT.

Critical Success Factor (CSF) merupakan faktor kunci sehingga sasaran dapat tercapai dengan strategi yang dapat memberikan penekanan terhadap aktivitas-aktivitas prioritas.

Dalam analisis dan perancangan metoda dilakukan dengan melakukan wawancara di lingkungan internal, dan juga melakukan analisis data menjadi proses bisnis dan rantai nilai sehingga visi, misi dan tujuan suatu perusahaan dapat tercapai. Sedangkan dalam perancangan metoda terfokus pada masalah yang dihadapi.

Dari analisis dan perancangan metoda, penulis melakukan pemetaan CSF ke kebutuhan TI, kemudian dari kebutuhan TI dapat dipetakan menjadi sasaran strategi TI yang merujuk pada proses bisnis yang didukung oleh TI. Setelah strategi TI didefinisikan dilakukan pemetaan  sasaran ke dalam perspektif BSC yang selanjutnya dibentuk IT BSC Scorecard sebagai panduan pengukuran kinerja TI, sehingga dihasilkan peta strategi yang selaras, bersinergi dan mampu mendukung  pencapaian  sasaran dalam  bentuk  peta  strategi  teknologi informasi (IT strategic map)

 

Sumber : Irawan Afrianto. Usulan Peta Strategi Teknologi Informasi Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard . (Link akses:

http://jurnal.unikom.ac.id/_s/data/jurnal/v09-n01/volume-91-artikel-10.pdf/pdf/volume-91-artikel-10.pdf

)

11 Comments

Hello world!

Welcome to Blog Civitas UPI. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

3 Comments